Komponen-Komponen Komunikasi Politik dan Kasusnya di Indonesia
KOMPONEN – KOMPONEN KOMUNIKASI POLITIK dan KASUSNYA DI INDONESIA
Bulan lalu saya sempat menjelaskan tentang unsur-unsur atau komponen-komponen dalam komunikasi politik. Walaupun begitu, mari kita flashback sejenak tentang apa saja komponen-komponen yang ada dalam komunikasi politik, yaitu: (1) Komunikator Politik, (2) Pesan Politik, (3) Saluran atau Media Politik, (4) Sasaran atau Target Politik dan (5) Pengaruh atau Efek Komunikasi. Untuk selengkapnya, Anda bisa membuka link ini:
Baiklah kita langsung saja ke topik kasus, dimana saya akan mencoba membahas tentang bagaimana praktek komponen-komponen dalam komunikasi politik berjalan di Indonesia.
1. Isu Dinasti Politik dan Korupsi Tak Mempan di Pilkada Banten?
Praktek komunikasi politik yang terjadi dalam Pilkada Banten 8 Februari 2017 memang tidak terliahat terlalu diperbincangkan jika dibandingkan dengan Pilgub DKI Jakarta. Meskipun begitu, seperti yang sudah kita ketahui, daerah Banten terkenal dengan Kerajaan Ratu Atut. Tak bisa disangkal lagi, Banten menjadi daerah kekuasaan Keluarga Atut, hingga KPK memasukan Banten sebagai provinsi rawan korup yang perlu pendampingan.
Komunikasi politik yang dilakukan oleh Polda Banten, Listyo menyakinkan bahwa masyarakat jangan cepat terpengaruh oleh hasil quick count yang dilakukan oleh lembaga-lembaga survey yang biasanya, KPU berharap masyarakat Banten bersabar dengan menunggu hasil real count yang akan diumumkan secara langsung dan resmi oleh KPU.
Dengan pengumuman ini, KPU mengaharapkan efek yang ditimbulkan oleh masyarakat sebagai feedback dari pesan komunikasi politiknya mendapatkan efek yang sesuai harapan, yaitu daerah Banten tetap damai dan tidak terjadi konflik apapun.
2. Prabowo akan Bertemu SBY, Timses Ahok: Komunikasi Politik itu Biasa
Komunikasi politik yang memang sering dilakukan oleh politikus-politikus di Indonesia atau bahkan di luar negeri sekalipun, dan hal ini menjadikan komunikasi politik menjadi hal yang biasa. Pertarungan untuk merebut kekuasaan tertinggi di Indonesia menjadi ajang kompetisi bagi para penguasa partai-partai besar. Sayangnya, di jaman globalisasi ini, pertarungan menjadi tidak adil karena adanya pengaruh media-media di Indonesia yang dimana pemiliknya adalah salah satu dari calon-calon petinggi di Indonesia. Dengan memiliki media, komunikasi politik (kampanye parpol) yang dilancarkan oleh pemilik media sekaligus calon petinggi di Indonesia menjadi lebih lancar dan efektif. Karna tidak dapat kita pungkiri bahwa saat ini media yang sering sekali digunakan untuk mencari informasi ataupun sekedar hiburan adalah televisi ataupun internet. Dengan menguasai media, mereka bisa menguasai pemikiran-pemikiran masyarakat yang masih awam tentang pemilihan wakil rakyat dan mencekoki mereka dengan doktrin dan janji-janji manis tentang kesejahteraan di tengah-tengah masyarakat kurang mampu dan minim pendidikan. Sehingga pesan dalam media yang seharusnya netral dan berpihak kepada masyarakat, saat ini malah menjadi alat komunikasi politik untuk memenangi pilkada atau pilgub atau pemilihan lainnya.
KESIMPULAN
Komunikasi politik yang berlangsung di Indonesia memang berjalan efektif karna di dalam melakukan komunikasi politik, komponen-komponen komunikasi politik dapat kita lihat dan analisis di beberapa berita yang kita ketahui. Namun, keefektifan sesuatu tidak selamanya adalah hal yang baik. Menurut saya, jika komunikasi politik yang dilakukan oleh pemerintah maupun kelompok-kelompok kepentingan dilakukan hanya untuk mendukung kepopuleran mereka atau menarik simpati masyarakat untuk mengemis dukungan suara, maka komunikasi politik tidak berjalan efektif. Karna harapan saya tentang komunikasi politik adalah komunikasi dilakukan untuk mendukung suara masyarakat kecil dan menghasilkan output atau efek yang berguna bagi masyarakat kecil. Tidak membeda-bedakan status dengan hak dan kewajiban sebagai warga negara.
Dari masyarakat, saya juga mengharapkan masyarakat tidak terlalu terpengaruh dengan propaganda-propaganda yang sering dilakukan oleh parpol-parpol di Indonesia dan terus melakukan literasi media kepada media apapun. Karna dengan begitu, diharapkan masyarakat yang awam setidaknya tau seperti apa sosok calon wakil rakyat yang akan mereka pilih dan bagaimana cara memilih yang benar. Semakin banyak orang-orang yang melakukan literasi media, maka semakin banyak pula orang-orang yang terselamatkan dari cekokan-cekokan oleh media yang ada.
Referensi:
http://ririyre.blogspot.co.id/2017/02/komunikasi-politik-ruang-lingkup.html

Komentar
Posting Komentar