ANALISIS PENDEKATAN YANG DIGUNAKAN MACRON DALAM MEMENANGKAN PEMILIHAN PRESIDEN PRANCIS 2017
ANALISIS PENDEKATAN YANG DIGUNAKAN MACRON
DALAM MEMENANGKAN PEMILIHAN PRESIDEN PRANCIS 2017
Pada tanggal 7 Mei 2017
telah diadakan pemilihan presiden Perancis putaran kedua. Hasilnya bisa kita
ketahui sekarang bahwa pemenang dari pilpres ini adalah Emmanuel Macron. Macron
berhasil mencetak dalam sejarah baru Perancis karna di usia nya yang masih muda
dalam kancah dunia politik, Macron berhasil memecahkan rekor pemimpin tertinggi
di Perancis yang menjabat di usia muda yang sebelumnya dipegang oleh Louis
Napoleon Boneparte.
Di
media sosial banyak berita yang memberitakan tentang kemenangan ini, dan begitu
pula tentang analisa analisa para jurnalis. Namun, disini saya akan mencoba untuk
menganalisanya lagi tentang pendekatan apa yang digunakan oleh Macron dalam
memenangkan pilpres ini dilihat dari sudut pandang komunikasi politik.
Menurut
saya, pendekatan yang digunakan Macron adalah pendekatan alternatif, dimana
capres memanfaatkan media apapun untuk mempromosikan dirinya untuk menjadi
seorang presiden terpilih dan melakukan pendekatan pendekatan kepada masyarakat
kalangan bawah untuk mendengarkan aspirasi mereka sekaligus memperkenalkan visi
dan misi dari capres terkait. Seperti penjelasan dari Amirudin (2009) menemukan
bahwa aktivis gerakan tarbiyah yang memasuki ranah politik mengalami
transformasi identitas secara progresif, melewati empat tahapan: terbuka pikiran, semakin bergairah
memperjuangkan nilai nilai kebenaran, tumbuh kesadaran ideologis, dan menjadi agen perubahan. Dalam komunikasi
dengan diri sendiri, politisi melewati kontemplasi
ruhiyah, kontemplasi fikriyah dan kontemplasi
amaliah, sedangkan komunikasi dengan nonaktivis ditandai dengan perubahan
ke arah positif yang melibatkan simbol verbal yang lebih cair dan penyelesaian
masalah yang lebih realisis.
(Kontemplasi adalah juga suatu tindakan untuk memahami penuh suatu hal. Memahami tidak
hanya sekedar tahu, tapi ada pendalaman dan pemaknaan akan sesuatu dibalik apa
yang bisa terindera. Karena kontemplasi,
benda mati tidak lagi hanya menjadi sekedar benda mati.- KBBI)
Seperti
yang dilakukan Macron dengan gerakan yang dibentuknya bernama En Marche yang
berarti bergerak. En Marche ini memiliki banyak relawan yang turut membantu
memberikan dukungannya kepada Macron. Bahkan berdasarkan berita yang saya baca,
gerakan ini seperti mencontoh cara cara kampanye mantan Presiden AS, Barack
Obama pada 2008 silam. En Marche memiliki aktivis dan relawan yang secara door to door memperkenalkan figur Macron.
“Tak hanya membagi-bagikan
selebaran, para relawan En Marche juga melakukan wawancara dengan warga Prancis
tentang hal yang mereka butuhkan dan inginkan dari pemerintah pada saat ini.
Hasil-hasil wawancara itu lantas masuk basis data Macron untuk menentukan
programnya pada saat kampanye tahun 2017.” – Ezra Natalyn (2017)
Dapat
ditarik kesimpulan bahwa Macron adalah sosok Presiden baru yang masih muda,
memiliki pemikiran yang terbuka dengan dunia luar, mau mendengarkan suara
rakyat, memiliki tujuan yang sependapat dengan golongan mayoritas dan
terpenting adalah mampu mengambil hati rakyat guna perubahan yang lebih baik. Dengan
begitu, Macron mendapatkan suara yang lebih banyak dari sainganya, Marine Le
Pen dan memenangkan pesta pilpres Perancis 2017 ini.
Sudah jelas bahwa
mempelajari komunikasi politik berguna untuk menganalisa momen momen seperti
pilpres ini agar kita tidak mudah dimanipulasi oleh aktor aktor politik yang
dengan bahasa-bahasa politiknya mampu mencuci otak kita dan tidak bisa
berfikiran jernih dalam memutuskan suatu hal.
Kajian Pustaka:
Mulyana, Deddy. 2013. Komunikasi Politik "Membedah Visi dan Gaya Komunikasi Praktisi Politik. Bandung: PT Remaja Rosda Karya
(Note:
mohon maaf apabila ada kesalahan kata dan makna. Terimakasih sudah membaca
artikel ini yaaa J )

Komentar
Posting Komentar