Fenomena Karangan Bunga Di Jakarta
ANALISA
KOMUNIKASI POLITIK TENTANG KARANGAN BUNGA DI JAKARTA
Karangan bunga menjadi
topik yang hangat dibicarakan akhir-akhir ini. Dengan jumlah ratusan bahkan
ribuan karangan bunga ini ditujukan kepada pasangan mantan Gubernur dan Wakil
Gubernur Jakarta (Ahok-Djarot), Mabes Polri bahkan sampai di Istana
Kepresidenan. Sebenarnya apa makna dibalik karang bunga ini dilihat dari
Komunikasi Politik? Apakah karangan bunga ini merupakan salah satu bentuk
komunikasi politik yang baru?
Sebelumnya, mengutip dari Dan Nimmo (1989), “Lambang-lambang
pembicaraan politik adalah kata, gambar, dan tindakan. Kombinasi lambang
menghasilkan cerita, foto (baik foto diam maupun film), dan drama. Komunikator menyampaikan
bentuk-bentuk simbolik dan kombinasinya ini dengan berbagai teknik dan media:
secara lisan melalui perbincangan personal, melalui cetakanseperti korang dan
majalah, dan dengan teknik elektronik seperti radio atau televisi.”
Bisa kita lihat bahwa komunikasi bisa dilakukan
dengan media lisan, cetak dan elektronik, tidak disebutkan bahwa karangan bunga
juga termasuk didalamnya. Maka dari itu karangan bunga adalah bentuk komunikasi
politik yang baru di Indonesia. Karangan bunga bisa berarti banyak hal,
tergantung komunikan yang menerima dan menanggapi pesan dalam bentuk karangan
bunga. Fenomena komunikasi politik ini barangkali bisa dikaitkan dengan
semiotika model Susan Langer, “Meski pesannya sangat simpel dan sederhana,
maknanya yang sangat mendalam tertangkap oleh masyarakat, bahkan yang paling
awam pun.”
Tentu saja bisa kita lihat dari foto-foto tentang
karangan bunga yang terjadi di Jakarta, pesan-pesan yang disampaikan sangat
simpel dan mudah dimengerti, namun maknanya sangat mendalam bagi pihak pihak
tertentu. Fenomena karangan bunga ini
seperti gerakan dari masyarakat yang mengapresiasi pihak-pihak yang sudah
berjasa dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Di satu sisi, gerakan ini
merupakan bentuk dukungan, di sisi lain gerakan ini merupakan bentuk sindiran,
kembali lagi tergantung siapa yang memaknainya.
Walaupun fenomena ini dianggap efektif dan tidak
mainstream, tetap saja gerakan ini sebaiknya tidak dilanjutkan, karena
dikhawatirkan di masa depan gerakan ini malah menimbulkan kerusuhan dan
pertentangan dari du pihak yang berbeda pandangan. Jika ingin tetap menggunakan
karangan bunga sebaiknya secukupnya saja. Lagi pula, karangan bunga ini pun
tidak bisa disimpan oleh orang yang ditujukan dan hanya akan dibuang sebagai limbah
yang menambah tumpukan sampah di TPS. Toh, saat ini media elektronik dan media
cetak sudah sangat berkembang, mengapa tidak dimanfaatkan saja dengan maksimal.
Sebagai mahasiswa komunikasi, saya melihat karang
bunga di Jakarta ini terlalu berlebihan. Memang hal ini sangat menguntungkan
bagi penjual karangan bunga dan mungkin peneliti atau pakar komunikasi politik,
tapi lihat jumlah karangan bunga tersebut yang sampai sampai berjejer di
pinggir jalanan dan berbagai titik titik tertentu membuat pemandangan kota
menjadi tidak serapi dan setertib biasanya, karangan bunga pun ada masanya,
jika sudah tidak diperlukan ujung-ujungnya dibuang dan menimbulkan sampah baru,
dan dengan masyarakat Indonesia yang sifatnya heterogen, fenomena ini akan
dimaknai berbeda oleh setiap orang, jika salah satu pihak tidak terima, maka
akan muncullah masalah baru di dalam masyarakat.
Note:
Tulisan ini hanya untuk memenuhi tugas mata kuliah Komunikasi Politik. Mohon maaf
apabila ada kesalahan penulisan maupun jika ada pihak-pihak yang tidak
berkenan. Terimakasih sudah membaca artikel ini :)

Komentar
Posting Komentar